Thursday, March 15, 2012

Hutang : Penyakit yang Tak Kunjung Sembuh

    Di tulisan kali ini saya akan mengangkat tema yang sedikit serius, soalnya rasa nasionalis ini sudah berada pada titik nadir untuk ditahan dan mencurahkan seluruh unek-unek. sekarang saya akan lebih menitikkan opini pada hutang pemerintah yah hutang pemerintah tapi kita juga akhirnya yang menanggung hutang birokrasi bobrok ini.

   Hutang pemerintah (garis bawahi yang PEMERINTAH) saat ini sudah terakumulasi mencapai Rp1.837,39 triliun sebenarnya dalam teori nyata , negara yang dibangun dengan hutang susah untuk berkembang atau maju dan sejahtera seperti seperti yang diimpikan oleh seluruh rakyat negeri ini, bayangkan dari tahun 1945 sampai sekarang sudah seberapa besar tingkat kesejahteraan negeri ini?? oke boleh jadi BPS mengklaim kalau Indonesai sudah jauh mengalami kemajuan dari tahun tahun sebelumnya, dan pertumbuhan ekonomi indonesia sudah 6% lebih, tapi apakah itu sudah menyentuh rakyat seutuhnya?Tidak ya tidak bayangkanlah berapa juta petani negeri ini yang pertanianya masih menggunkan alat sederhana? artinya apa? pertumbuhan itu tidak menyentuh semua sektor ekonomi.

“Pemerintah berencana menambah hutang baru Rp 174 triliun di 2012. hal ini mengakibatkan hutang Indonesia akan mencapai Rp2000 triliun dan itu artinya satu jiwa hidup negeri ini akan menanggung hutang Rp8.000.000” detikcom (kamis 15/3/2012)

Miris mendengar kabar ini. tidakkah pemerintah sadar jika pertumbuhan ekonomi yang mereka banggakan itu menambah jarak kesenjangan makin besar. artinya apa? negara ini sudah seperti menganut ekonomi kapitalis saja!. hutang hutang dan hutang tak bisakah kita hidup tanpa sedikit saja mengurangi hutang bukan malah menambahnya. miris sekali Indonesai, menuai puji diluar tapi pujian yang dibangun dengan hutang! tidakkah pemerintah sadar kalo hutang itu akan membebani penerimaan pajak karena pajak akan banyak teraloksikan ke pembayaran hutang!.satu lagi yang kita tahu hutang sekarang akan membebani generasi selanjutnya yang tentunya akan semakin memperparah keadaan.

Pesimis?? tentunya tidak tapi kalau dengan birokrasi yang bobrok ini saya pesimis jika tak diperbaiki. birokrasi yang membangun negara dengan hutang . birokrasi yang belum atau tidak pernah memikirkan rakyat.

Buruknya birokrasi bisa diambil contoh dengan buruknya penanganan pajak di Indonesia dengan adanya kasus Gayus dan Dhana yang disebut sebut sebagai riset kebocoran pajak dan perangkap utang. pemerintah boleh saja mengklaim kalau penerimaan pajak meningkat dari tahun ke tahun tapi harus diketahu satu hal bahwa potensi kehilangan penerimaan mencapai 50% (detikcom).

Lebih memalukan lagi negara dengan pendapatan mengah seperti indonesia memiliki rasio pajak terhadap PDB dibawah rata-rata negara overmiskin sekalipun (low income) yang sudah mencapai14,3%. seharusnyaa penerimaan pajak terhadap PDB sebesar 19% untuk negara pendapatan menengah seperti Indonesia tapi negeri ini hanya 12% saja.

Solusi hutang tak lain adalah kesampingkan kepentingan kapitalis dinegeri ini karena hanya merekalh yang menikmati pertumbuhan ekonomi ini secara  nyatanya. sudah seharunyalah pemerintah menitik beratkan perekonomian yang berkerakyatan yang lebih memihak pada rakyat bukan pemilik modal. dalam kutipan ekomi islam “tiada akan ada kemajuan pada sebuah negara yang dibangun dengan hutang dan ada riba didalamnya” hutang pemerintah yang mana yang tak berbunga? anda mungkin lebih paham atas semua yang saya tulis, Wasslam!

@Benagustian

Comments
0 Comments

No comments :

Post a Comment

Silakan tinggalkan pesan anda, tidak perlu pesan panjang, cukup komen sederhana saja, oke salam kenal