Friday, June 8, 2012

Nasional.Is.Me

UntitledSemalam baca e-book nya si pandji yang judul e-booknya adalah NASIONAL.IS.ME sumpah aku paling ngak kuat kalo sudah diceritain tentang negaraku tercinta Indonesia dengan segala kelebihan dan kekurangannya, sepanjang baca ebook yang 200an halaman itu aku lebih sering menitikkan air mata (lebai ngak ya) soalnya terasa emosional aja rasanya. apa lagi pas bab yang tentang mempertanyakan “cintakah anda dengan Indonesia” dengan segala penggugah keraguannnya

yang aku salut dari ebooknya si Pandji ini adalah penularan jiwa optimisnya itu lho yang “wah” banget, sebenarnya aku sepandapat dengan dia soalnya kita harus optimis dengan segala hal apapun, dan yang paling membuat aku tersentuh pas dia nulis.. jadi mahasiswa jangan cuma berkata “kami hanya blaaa blaaa” dia cerita tentang kota Surabaya yang pada waktu 10 November 1945 bersejarah itu, mereka (pahlawan) tau kalau mereka bakal tak akan menang melawan belanda dan inggris tapi mereka optimis… “ingat lho mereka itu hanya modal nekat mereka kalo gagal nyawa taruhannya” kita?? cuma malu doangg kalo gagal..

………..Hari ini, pemuda dan pemudi Indonesia nampak bengong setiap kali saya ajak mereka untuk menciptakan perubahan.
Wajah mereka sinis dan berkata “mana mungkin...”
“Saya ‘kan hanya mahasiswa.”
“Saya ‘kan hanya orang kantoran.”
“Saya ‘kan hanya orang biasa, ga punya uang banyak, menciptakan perubahan nampak tinggi biayanya.” “Saya ‘kan hanya rakyat, bukan decision makers.”
....
Memalukan.
“Saya ‘kan HANYA...”
Pemuda dan pemudi Indonesia merendahkan diri mereka dengan menggunakan kata “hanya”.
Di saat pemuda dan pemudi masa lalu mempertaruhkan NYAWA mereka untuk meninggikan derajatnya di hadapan dunia asing. Di hadapan Jepang, Portugis, Inggris, dan Belanda yang berpikir mereka bisa menindas kita.
Pemuda pemudi yang bilang, “Saya ‘kan hanya rakyat,” harusnya pergi ke Taman Makam Pahlawan Kalibata dan melihat betapa banyaknya makam yang hanya bertulisakan “Pemuda”
karena sang pejuang itu tidak dikenal identitasnya. Ia hanya rakyat yang ikut angkat senjata melawan penjajahan, mempertahankan kemerdekaan.
Malu.
Harusnya mereka malu kepada semua yang sudah gugur di Surabaya karena mereka tetap berusaha walaupun di hadapan 30.000 tentara lawan, menang nampak tidak mungkin.
Malu karena, untuk kita, kalau kita gagal berusaha resikonya malu, sementara mereka resikonya kehilangan nyawa.
Malu karena mereka tidak punya infrastruktur yang kita punya untuk berusaha tapi mereka tetap berjuang.
Malu, karena walaupun mereka sudah mati-matian membebaskan negerinya dari penjajahan, bertahun-tahun kemudian, anak dan cucunya masih punya mental orang jajahan yang hanya bisa nurut dan bekerja, tanpa mau menggunakan kebebasannya untuk berpendapat dan berkarya.
–Pandji

sebenarnya aku ngak kuat kalo mau diceritakan semua disini tentang bagusnya e-booknya pandji, tapi pandji bilang gunakan semua waktu untuk berbagi ya hari ini aku akan bagi link download ebooknya sob, baca aja bagus kok ngak makan waktu 2 hari untuk bacanya haha download e-booknya disini

4 comments :

Silakan tinggalkan pesan anda, tidak perlu pesan panjang, cukup komen sederhana saja, oke salam kenal