Monday, January 2, 2012

Penguatan Nilai Tukar Rupiah dan Pengaruhnya terhadap Konsumsi Barang Impor




KATA PENGATAR

Puji syukur marilah kita haturkan kehadirat Allah SWT. Karena atas berkah rahmat-Nya penulis dapat menyelesaikan Ekonomi moneter yang berjudul “Pengutan Nilai Tukar Rupiah Terhadap Konsumsi Barang Impor”  ini yang insyaallah bermanfaat untuk kita semua aamiin.
Tidak lupa penulis mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang ikut membantu dalam penyusunan pembuatan paper ini.
Penulis juga menyadari bahwa dalam tugas ini masih terdapat banyak kekurangan, maka dari itu penulis sangat mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca supaya menjadi bahan perbaikan dipenulisan yang akan datang.
Demikianlah sedikit pengantar dari penulis, selamat membaca dan semoga bermanfaat.

                                                                        Indralaya, Juni 2011                                      
                                                                                                                       
                                                                         Bendi Agustianto.
                                                                                    Penulis




BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar belakang
Indonesia adalah  negara yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi yang  besar beberapa dekade terakhir ini, dibandingkan dengan negara berkembang lainnya Indonesia merupakan negara yang memiliki tingkat pertumbuhan ekonomi tercepat pasca krisis ekonomi  yang melanda Asia pada tahun 1998 . pertumbuhan ekonomi ini tentunya didukung dengan adanya perbaikan di berbagai sektor ekonomi. Dalam hal ini Indonesia memiliki penopang pertumbuhan  antara lain adalah sektor pertanian, pertambangan, perbankan, dan perdagangan.
      Dalam sektor perbankan, Indonesia menunjukkan perkembangan yang signifikan, dimana bank-bank nasional memiliki laba yang mengiurkan. Hal ini pula menjadikan pasar keuangan Indonesia memiliki prospek yang cerah. Tidak hanya itu, kepercayaan investor asing terhadap ekonomi Indonesia meningkat hal ini dapat ditunjukkan dengan semakin banyaknya investor asing berinvestasi di Indonesia.
      Di sektor perdagangan Indonesia memiliki surplus neraca perdagangan beberapa dekade terakhir,  dan hal ini pula yang menyebabkan nilai tukar rupiah menguat terhadap dollar. Penguatan ini bak mata uang yang memiliki dua sisi, di satu sisi menjadikan daya beli meningkat dan hutang negara berkurang tapi disisi lain menyebabkan ekspor menurun.
      Berbicara tentang daya beli masyarakat yang meningkat karena menguatnya rupiah kita tidak bisa lepas dengan pengaruhnya terhadap konsumsi barang impor. Oleh  karena itu, penulis tertarik membahas “Penguatan Rupiah dan Pengaruhnya Terhadap Konsumsi Barang Impor”.
       
1.2  Rumusan masalah
Adapun rumusan masalah dari makalah ini adalah:
1.      Hal-hal apa saja yang dapat memjadikan mata uang rupiah menguat terhadap dollar/mata uang asing?
2.      Apa pengaruh penguatan rupiah terhadap konsumsi barang impor?

1.3  Tujuan Penulisan
Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui hal-hal apa saja yang dapat memperkuat nilai rupiah terhadap dollar, selain itu bagaimana pengaruh penguatan rupiah tersebut terhadap konsumsi barang impor.

1.4  Manfaat Penulisan
      Manfaat dari penulisan ini adalalah untuk menetahui hal-hal apa saja yang dapat memperkuatan nilai tukar rupiah terhadapat mata uang asing, dan pengaruhnya terghadap konsumsi barang impor.


BAB II
ISI DAN PEMBAHASAN

2.1  Hal-hal yang dapat memperkuat  nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

Berikut adalah hal-hal yang membuat rupiah menguat akhir-akhir ini :        
1.      Pemulihan perekonomian AS dipandang masih sangat volatile, sebagaimana terindikasi dari lambatnya penurunan penganggguran dari 9,8 persen (Januari 2010) menjadi 8,8 persen (April 2011).Hal ini memaksa the Fed (Bank Sentral AS) mematok dan menahan suku bunga rendah pada level 0,25 persen. Selain itu, the Fed memberikan sinyal untuk tetap menerapkan kebijakan stimulus dalam skema quantitative easing senilai 600 miliar dollar AS. Dua kebijakan itu membuat suplai USD di pasar bertambah banyak dan nilainya terhadap rupiah (dan beberapa mata uang lainnya) mengalami penurunan.
2.      Proses pemulihan perekonomian AS membuat permintaan di negara itu terhadap produk-produk yang dihasilkan negara lain mengalami peningkatan cukup signifikan.
3.      Suku bunga acuan yang ditetapkan BI (BI Rate) sebesar 6,75 persen lebih tinggi dibanding dengan suku bunga di beberapa negara kompetitor, seperti Malaysia (2,75 persen), Thailand (2,75 persen), dan China (3,25 persen). Hal ini membuat pasar keuangan Indonesia relatif lebih menarik daripada pasar keuangan di beberapa negara tersebut. Menariknya, pasar keuangan membuat arus dana asing (capital inflow) yang meminta rupiah mengalir deras ke negeri ini.
4.      Agresifnya pemerintah dan perusahaan menerbitkan obligasi membuat permintaan USD terhadap rupiah mengalami peningkatan.Tingginya permintaan terhadap obligasi ini membuat nilai rupiah terkerek naik ke atas. (Latif Adam, dalam www.apasih.com)


Untuk  melakukan penguatan nilai tukar rupiah  instrument terpenting adalah bank sentral dalam hal ini bank Indonesia dan pemerintah.

a. Peran Bank Indonesia Untuk memperkuat rupiah
1.       Menarik Money supply (uang beredar) kembali ke BI.
 dengan demikian rupiah yang beredar akan sedikit, sehingga nantinya permintaan akan rupiah akan meningkat yang berimbas pada kenaikan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.
2.      Menjaga agar inflasi tidak terlalu tinggi
Penjagaan inflasi supaya tidak tinggi ini adalah untuk menjaga daya beli masyarakat tetap tinggi. Tentunya kemampuan untuk membeli suatu barang menjadi lebih besar sehingga penguatn nilai tukar trupiah terhadap mta uang asing dapat tercipta.

b. Peran Pemerintah

1. Sosialisasi pemakaian produk dalam negeri tujuannya adalah untuk menjaga agar modal dalam    negeri tidak tersedot ke luar negeri (import)
2. Meningkatkan ekspor setelah kebutuhan dalam negeri terpenuhi (hal ini akan menambah devisa)
3. Memberi perhatian khusus kepada TKI, karena TKI adalah pahlawan devisa Indonesia
4. Nasionalisai perusahaan besar di Indonesia (termasuk BUMN). jika investasi yg ada di
5. Indonesia hasilnya berputar di Indonesia maka akan menaikkan nilai tukar rupiah
6. Bangun infrastruktur secara merata di seluruh Indonesia agar perekonomian berjalan lancar.
7. Tingkatkan pendapatan negara (APBN) lewat pemungutan pajak secara efektif dan efisien. 2.2 

Pengaruh penguatan nilai tukar Rupiah terhadapt konsumsi barang Impor
 a. Menguatnya rupiah membuat konsumsi barang impor meningkat.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), impor barang konsumsi Januari- April 2011 mencapai USD4,282 miliar (7,98% dari total impor), naik USD1,211 miliar dari periode yang sama tahun lalu sebesar USD3,071 miliar (7,46% dari total impor). Peningkatan impor barang konsumsi ini perlu diwaspadai jika produk yang banyak dibeli masyarakat adalah produk milik Indonesia seperti pakaian jadi, makanan,dan minuman.( http://jorindo.co.id/peningkatan-impor-barang-konsumsi/)

Dengan menguatnya rupiah maka daya beli masyarakat akan produk akan meningkat sehingga konsumsi barang-barang dalam negeri akan meningkat pula. Dengan adanya peningkatan ini tentunya akan menyebabkan inflasi. Disamping itu menguatnya nilai tukar rupiah akan menjadikan barang-barang impor murah dan menyebabkan orang akan banyak mengkonsumsi barang impor,  dan ini tentunya dakan berbahaya karena barang-barang dalam negeri akan kehilangan pembeli.
Penguatan rupiah yang mulai terjadi pada pertengahan Februari terus mendorong aksi impor, khususnya barang konsumsi. Sepanjang Januari-April impor barang konsumsi 4,28 miliar dollar AS atau meningkat 39,42 persen dibanding periode sama tahun 2010. Jika penguatan terus dibiarkan, aksi impor akan terus melonjak. (kompas.  Kamis, 10 Maret 2011)
Menguatnya nilai rupiah ini juga membuat para pengusaha melakukan jalan pintas untuk melakukan impor daripada mebuat sendiri, karena nilai impor  lebih murah daripada membuat sendiri, hal ini tentunya sangat merugikan Negara. Dan perlu di waspadai. Terutama produk makanan dan minuman.

b. Devisa negara akan terkuras.
Mengutip dari pernyataan pengamat ekonomi  Hendri Saparini tingginya impor yang diakibatkan dari menguatnya rupiah tidak atau belum mampu mendorong pertumbuhan  industri sektor hilir, sehingga cadangan devisa Indonesia menjadi imbasnya, yakni berat untuk mengimbangi aksi impor ini, sehingga Indonesia terperangkap menjadi pengekspor barang mentah dan bahan modal jangka pendek. Sehingga surplus perdangan Indonesia akn terus menurun. Hal ini dapat di tunjukan dengan data-data berikut
1. Angka impor ini (April 2011) adalah tertinggi dalam sejarah,” ujar Deputi bidang Statistik, Distribusi, dan Jasa BPS Djamal. Nilai impor itu naik 32,54 persen dibandingkan April 2010 (year oon year), yakni 11,24 miliar dollar AS, serta naik 2,8 persen dibandingkan Maret 2011.
2. Nilai ekspor selama April 2011 tercatat 16,52 miliar dollar AS, naik 37,28 persen dibanding April 2010 atau naik 0,96 persen dibanding bulan lalu. Hal itu disebabkan kenaikan ekspor migas 17,31 persen, sedangkan ekspor nonmigas turun 2,82 persen menjadi 12,92 miliar dollar AS.
3. Dengan memperhitungkan selisih nilai ekspor dan impor, , neraca perdagangan Indonesia April 2011 mengalami surplus 1,63 miliar dollar AS. Meskipun demikian, surplus perdagangan Indonesia tercatat terus menurun sejak bulan Februari 2011 (kompas.com sabtu, 4 Juni 2011 )

c. Apresiasi rupiah juga memberikan keuntungan bagi importir. Jika barang-barang yang   diimpor itu merupakan barang modal (mesin dan peralatan) dan bahan baku (gandum), maka kapasitas produksi perekonomian bisa ditingkatkan karena biaya produksi yang harus dikeluarkan secara relatif akan menjadi lebih murah.

BAB III
PENUTUP
3.1  Kesimpulan
Dari pembahasan kita dapat menyimpulkan bahwa menguatnya nilai tukkar rupiah bak dua sisi mata uang, disatu pihak menguntungkan dengan menurunnya utang luar negeri dan meningkatnya daya beli, di sisi lain akan menyebabkan konsumsi barang impor meningkat yang menyebabkan impor juga meningkat dan ekspor menurun.
3.2  Saran
Melihat dan menelaah dari pembahsan penulis menyaran untuk melakukan penyeimbangan kebijakan moneter dalam mengatur dan mengawasi penguatan nilai tukar rupiah ini, agar adanya keseimbangan antara konsumsi barang impor dan penguatan  nilai tukar itu sendiri supaya kinerja ekonomi semakin baik kedepannya. 


DAFTAR PUSTAKA

Tulisan Latif Adam, dalam www.apasih.com
http://www.apasih.com/2011/05/inilah-dampak-positif-dan-negatif.html
http://jorindo.co.id/peningkatan-impor-barang-konsumsi/
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/06/04/05095585/Penguatan.Rupiah.Dorong.Impor
http://bisniskeuangan.kompas.com/read/2011/03/10/07134429/Penguatan.Rupiah.Tak.Jadi.Soal
http://id.answers.yahoo.com/question/index?qid=20090706235803AAmgSH3



                 



Comments
0 Comments

No comments :

Post a Comment

Silakan tinggalkan pesan anda, tidak perlu pesan panjang, cukup komen sederhana saja, oke salam kenal