Tuesday, April 30, 2013

Doa..


Sumber gambar disini
Alhamdulillah saya sampai pada satu fase dimana saya tertarik sekali untuk menuliskannya. Fasenya tidak akan saya sebut  fase apa biar tidak dibilang sombong atau apalah [gimana tuh? haha]. Karena jika ini sebut maka saya takut ini akan menjadi sebuah ajang pamer padahal ini memang bukan satu hal yang layak untuk dipamerkan.

Well, lupakan itu apa fase apa, yang jelas teman saya mengatakann bahwa saya adalah orang yang sangat beruntung karena sampai fase ini dengan bisa dikatakan tidak banyak mengalami  rintangan. Oke. Dalam hal ini saya mengucapkan Alhamdullillah. Walaupun sebenarnya ada yang lebih beruntung dari saya. Saya menyadari ini biar saya tidak begitu berbangga diri karena memang fase yang saya lewati ini bukan fase yang mesti dibanggakan. Oke deh biar tidak bingung anggap saja fase dalam perjuangan kuliah deh, misalnya lulus ujian salah satu mata kuliah dengan nilai yang bagus. Tapi catat ya ini bukan tentang nilai mata kuliah  

Teman-teman saya bilang saya cukup beruntung. Ya saya juga menyadari itu tapi saya merasa bukan karena keberuntungan semata sehingga saya sampai di fase ini dengan mudah. Tapi saya rasa ini adalah jawaban Allah atas doa saya. Saya memang selalu berdoa pada Allah untuk selalu memberi kemudahan dalam setiap urusan saya. Memang doa ini terlihat sepele namun saya rasa ini permintaan yang mudah dikatakan “ya Allah berikanlah kemudahan kepadaku dalam setiap urusan dunia dan akhirat” 

Memang benar kalau usaha tanpa doa itu sombong sedang doa tanpa usaha itu omong kosong. Lagi pula saya sampai sekarang masih terngiang-ngiang pesan guru Matematika saya di sekolah tingkat pertama ketika bulan-bulan menjelang ujian nasional. Beliau berpesan bahwa selain berusaha tugas kalian selanjutnya adalah berdoa, meminta pada Allah apapun, karena meminta sesuatu pada Allah adalah mudah, katakan saja. Kekuatan kita adalah doa.

Saya bukan sekali atau dua kali diberikan kemudahan dan saya merasa ini adalah jawaban dari doa-doa. Namun berkali-kali, dan saya masih percaya bahwa tidak ada doa yang tak diijabah tidak sekarang mungkin nanti, tidak di dunia tapi di akhirat. Serta tidak ada doa yang tertolak, pun tertolak itu karena kesalahan kita sebagai hamba itu sendiri. Bermaksiat misalnya. 
Mari berdoa..




Tuesday, April 2, 2013

Are you anonymous?

Anonymous photo, anonim,
Saya punya teman, lebih tepatnya teman mention-mentionan di twitter yang saya tidak tau dia tinggal di kota mana, apa lagi namanya, jadi kalo mention-mentionan denga dia ini, saya berasa berkomunikasi sama tembok, enaknya tembok keliatan sedang dianya ngak cuma tulisannya doang yang muncul di lini masa [nyambung ngak ni], yang saya tau cuma satu hal dia ngakunya cewek hahah selebihnya dia banci atau maho yang ngepoin saya, saya tidak tau. Intinya orangnya anonymous. Inilah yang membuat kadang saya malas membalas setiap mention yang dia layangkan. And you know sebaliknya dia sepertinya tau banyak tentang saya. lah iya mungkin dia baca bio saya. hahah

Tapi saya sadar dilihat dari tweet-tweetnya dia, sepertinya dia adalah muslimah yang taat dan mungkin pemikirannya masih dalam box yang menerjemahkan agama begitu kaku. sempat juga doi bilang apalah arti sebuah nama jika ditanya namanya. ya sekarang masih banyak muslimah yang menerjemahkan agama itu kadang sempit sekali, saya tau saya juga bukan tipe muslin yang tau banyak tentang agama. Tapi aku mau husnuzon sama dia pasti dia ini oragnya yang baru mencoba mengenal agama secara lebih kaffah sehingga semua tentang dia mesti dirahasiakan dari lawan jenisnya termasuk namanya, ya sudah kita sebut saja dia Siti Zubaidah hahah. [ah tuh kan jadi ceramah -,-] [cermahnya sok tau lagi :P]

Mau berbagi informasi atau tidak adalah hak semua orang, dan memang kita harus hati-hati berbagi data diri di internet, tapi ya kembali lagi kalo di jejaring sosial kan mau nyambung tali silaturrahmi masa nama saja kita tidak tau kan?. Ngomongin soal akun anonymous kadang saya jengkel juga baca bio twitternya "want know me ? ih kepo!, lokasi : di hati mu ah mau muntah dah saya hahah.

Saya punya cerita untuk akun yang model beginian, yang saya baca di media online [telah dimodif], tapi kurang lebih ceritanya tentang sebuah perusahaan besar yang melakukan perekrutan karyawan untuk berbagai posisi strategis dan bergengsi, semua tahapan mulai dari seleksi administrasi, tertulis, dan psikotes, sudah dilakukan dan yang membuat calon karyawan bingung adalah begitu banyak calon karyawan yang lolos hingga tahap wawancara sementara yang tidak lolos pada tahap sebelumnya sangat sedikit. Lanjut ke wawancara, pada saat wawancara pertanyaannya begitu mudah yaitu ceritakan tentang diri anda sedetail mungkin. ah bagi yang sudah malang melintang diperwawancaraan pasti fasih menjawab pertanyaan ini tapi satu hal yang cukup unik, disetiap akhir wawancara setiap calon karyawan diminta untuk membuka jejaring sosial mereka seperti twitter dan facebook, setelah menunjukkan isinya mereka dipersilakan keluar. And you know siapa saja yang diterima?? 

"Kami hanya menerima mereka yang terbuka dan percaya diri pada diri mereka sendiri, banyak orang terbuka hanya pada situasi yang mendesak saja sementara keterbukaan adalah salah satu modal penting dalam perusahaan ini, dan langkah untuk melihat itu semua , kami cukup melihat dari bio twitter mereka dan photo yang mereka gunakan di jejaring sosial tersebut, kita tau banyak orang yang tidak begitu percaya diri dengan siapa dirinya, cukup unik memamg namun ini saya rasa efektif" CEO

Tuh kan? percaya diri aja lagi, jangan cuma takut menceritakan dimana anda kuliah, tinggal dimana, siapa nama panggilan kita terus jadi manusia yang serba misterius bin anonymous. Saya sadar, saya juga tidak 100% terbuka tapi kalo sebatas nama panggilan kota tinggal kuliah dimana apa susahnya berbagi sama orang. tapi kadang orang suka salah tanggap dibilang pamerlah dibilang noraklah. ya kita memang harus hati-hati dalam membagi informasi di internet. tapi wait! seberapa penting kita ini? kalo kita buron kurasa memang mesti  anonymous dll.

Tapi intinya jangan sok misteriuslah...
tapi sebentar jangan-jangan apa yang saya tidak suka ini adalah cerminan saya sendiri. jadi tolong koreksi dikemudian hari. terimakasih. Hello April!